Pagi ini, seperti biasa kusapu lantai rumah kos yang kutinggali. Rasanya ada perasaan yang sangat tidak sreg di hati jika kubiarkan debu-debu dan sampah-sampah kecil berserakan di lantai. Kaki ini akan terasa risih jika menginjaknya. Pun, kelihatan tak mengenakkan di pandangan mata. Apalagi kata Rasul kebersihan itu sebagian dari iman.
Maklumlah,.... yang tinggal juga tidak bisa setiap saat menjaga kebersihan rumah mungil yang hanya ditinggali bertiga ini. Kotoran yang melekat pada kaki atau sandal dan sepatu tak bisa dihindarkan, pasti ikut masuk ke dalam rumah ketika alas-alas kaki - yang menemani kami beraktifitas di luar rumah - itu dimasukkan ke dalam. Begitu juga dengan sepeda motor yang selalu parkir di dalam rumah ketika malam sudah datang. Tak pelak lagi, pastilah tanah-tanah yang menempel di bannya juga tak ragu-ragu untuk segera menempatkan diri di lantai, apalagi saat ini sedang sering-seringnya turun hujan.
Kebetulan, tepat di depan rumah kos kecil kami itu adalah gang kecil tempat lalu lalang banyak orang, ada yang jalan kaki, bersepeda motor dan ada pula yang memakai mobil. Karenanya, pastilah debu-debu yang beterbangan dari jalan itu tak pelak selalu singgah di rumah kecil yang sering terbuka ini. Jangankan sering dibuka, bahkan ketika tertutup rapat pun, entah dari mana ‘mereka’ (debu-debu itu) tetap bisa masuk ke dalam rumah. Ah,... memang debu-debu itu tak pernah memilih-milih tempat yang harus didatanginya.
Begitulah rumah kos mungil yang kami tempati, selalu ada saja kotoran yang tak diundang masuk ke dalamnya. Itu masih yang di lantai, yang selalu dibersihkan setiap hari. Lain lagi debu-debu yang menempel di dinding, di sudut-sudut rumah yang jarang terjangkau sapu, atau di bawah lemari. Tak setiap saat kami rajin membersihkannya.
Entah mengapa, terbersit dalam pikiranku, rumah yang kami tempati ini juga sama halnya dengan diri kita. ‘Debu-debu’ (kesalahan dan dosa) selalu dengan rajin mengotori diri ini. Setiap waktu, selalu ada saja kesalahan dan dosa yang kita lakukan. Dari mata, telinga, lidah, kaki, tangan, bahkan hati yang tak kasat mata juga sering menerbitkan banyak kotoran dalam diri kita. Tak terasa, sedikit demi sedikit diri kita telah dilumuri dengan dosa-dosa yang sering kita lakukan.
Berbeda dengan rumah yang kotorannya nampak dan dapat kita rasakan, kotoran yang menempel dalam diri kita tak dapat dilihat. Hingga ada istilah joke “dosa kan nggak njendol”. Sampai-sampai, karena dosa itu nggak njendol, kita sering lupa membersihkannya. Padahal, manakah yang lebih menyiksa kita, kotoran fisik ataukah ‘kotoran’ tak kasat mata yang ada dalam diri kita????
Apa i’tibarnya? Ialah kita harus selalu memperhatikan diri kita, hati kita. Jangan sampai kita selalu membiarkan dosa-dosa kecil, apalagi besar, menempel lekat di dalam diri kita. Karena, jika kita tak selalu membersihkannya, kita akan menjadi terbiasa dengan kotornya diri kita. Kalau sudah menjadi sebuah kebiasaan yang kemudian berkembang menjadi karakter, akan sulitlah kita merubahnya. Sama halnya dengan kotoran yang menempel lama di salah satu sudut rumah yang jarang kita bersihkan. Butuh kerja ekstra untuk membersihkannya seperti semula. Bahkan, tak sedikit yang walau pun sudah dibersihkan, masih saja meninggalkan bekas-bekas yang tak bisa dihilangkan.
“Tidak menjadi dosa besar sebuah dosa bila disertai dengan istighfar dan bukan dosa kecil lagi suatu perbuatan bila dilakukan terus menerus.” (HR. Ath-Thabrani)
Allah Azza wa Jalla berfirman:
وَأَقِمِ الصَّلاةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِنَ اللَّيْلِ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ذَلِكَ ذِكْرَى لِلذَّاكِرِينَ
Artinya : “dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.” (QS. 11 : 114)
Hanya dengan melakukan perbutan-perbuatan baiklah kita bisa ‘menyapu’ dosa-dosa yang setiap hari mengotori diri kita. Semakin sering berbuat baik, maka semakin bersihlah hati dan diri kita. Seperti rumah yang selalu dibersihkan setiap ada kotoran atau debu yang menempel. Hal ini semakna dengan sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam: kepada Mu’adz bin Jabal radhiallahu ‘anhu:
“Bertakwalah kepada Allah di mana pun kamu berada, ikutilah perbuatan yang buruk dengan perbuatan baik, maka perbuatan baik itu akan menghapuskan (dosa) perbuatan buruk tersebut, dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik” (Hadits hasan riwayat Imam Ahmad 5/153, dan At Tirmidzi no. hadits 1987).
Sama halnya dengan rumah, jika kita sering membersihkannya, maka kita kan nyaman berada di dalamnya, sekali pun rumah itu tak seindah istana. Diri kita juga, apabila selalu kita bersihkan dari dosa-dosa, maka hidup kita akan tentram dan bahagia karenanya. Tak ada ‘pembersih’ yang lebih baik kecuali ber-istighfar dan berbuat baik setiap saat.
Selengkapnya...
Sabtu, 27 Maret 2010
Menjaga Kebersihan
Logam Kecilku
Aku punya satu kebiasaan mengumpulkan uang recehan mulai dari pecahan Rp. 50,- sampai Rp. 1000,- yang berbentuk logam. Recehan itu kudapatkan dari kembalian-kembalian parkir, belanja kebutuhan, kembalian naik angkot dan sebagainya. Ntah kenapa – aku pun nggak tau – rasa senang selalu muncul begitu saja ketika melihat kumpulan uang logam yang kutaruh di dalam sebuah kotak kecil. Tiap kali kulihat uang di dalam kotak itu berserakan, aku selalu luangkan waktu sedikit untuk merapikannya. Ntah kenapa, walaupun jumlahnya sedikit, aku merasa uang recehan itu begitu berharga.
Sudah beberapa minggu ini, aku tidak memperhatikan 'logam-logam berharga' itu. Ketika ada uang recehan kudapatkan, langsung kumasukkan saja, tanpa memperhatikan kondisi uang di dalam kotak kecil itu. Jarang sekali aku mau mengambil logam-logam kecil yang sudah kukumpulkan beberapa tahun ini. Sayang sekali rasanya.
Hingga, kemarin, aku ingin pergi ke suatu tempat. Uang yang ada di dompetku terlalu besar jika hanya untuk membayar parkir di tempat itu. Sedangkan uang ribuan, aku tidak punya waktu itu. Yah, mau tak mau, akupun terpaksa mengambil uang dari dalam kotak kecil wasiat itu.
Tapi,.........
Betapa kesalnya aku ketika itu,....... (sampai saat menulis ini pun kesalku belum juga bisa kuredakan, ampuni aku ya Allah,......)
Waktu aku mau mengambil uang pecahan Rp. 500,-an, aku tak mendapatkannya lagi disana. Semua logam pecahan Rp. 500,-an dan ribuan yang tersusun rapi di kotak kecil itu telah raib entah kemana. Tak meninggalkan jejak sedikit pun. Yang tersisa hanya logam pecahan ‘limpul’, seratus dan dua ratusan saja ditambah sebiji uang logam 500an yang terselip di antara recehan kecil yang tertinggal. Ah, betapa kesalnya aku,......
Aku jadi lupa kalau waktu itu saya mau pergi. Kuambil kotak kecil saya itu. Lama,...... kuperhatikan,........ kulihat berulang-ulang,........... kupastikan lagi........... Ternyata memang benar telah hilang. Seakan tak percaya aku waktu itu, logam-logam kecil kesayanganku – yang telah kukumpulkan bertahun-tahun – telah HILANG. Kesal sekali aku,...... Begitu kesalnya aku, kukeluarkan uang-uang kecil itu dari dalam kotaknya, kuserakkan di lantai, kemudian ku masukkan lagi dengan kondisi yang berantakan. Baru di hari berikutnya, dengan menyabar-nyabarkan diri, kususun kembali recehan-recehan kecil yang tertinggal itu. Ah,... sedihnya,......
Kehilangan uang dengan jumlah yang sama atau lebih besar nominalnya daripada logam-logam kecilku yang hilang itu takkan membuat aku sekesal ini. Memang, nominalnya tak seberapa, tapi walaupun orang yang mengambilnya mau mengembalikan lagi uangku itu dengan nominal yang sama atau lebih besar sekalipun, nilai logam-logam kecil itu takkan tergantikan. Kesalnya hatiku takkan terobati dengan nominal uang. Maafkan aku,...... memang saya masih kesal,.....
Peristiwa ini membuatku semakin sadar betapa segala rasa yang ada di hati ini tak dapat dibandingkan dengan materi. Perasaan senang, bahagia, cinta, rindu, kasih, sayang, semua itu tak ternilai harganya. Tak tergantikan oleh apa pun. Bahkan rasa benci, kesal, sedih, marah, pun ternyata tak terobati dengan materi. Betapa ruginya kalau kita tak menghargai atau mengabaikan perasaan-perasaan hati.
Menjaga benda kecil yang dapat membuat hati ini merasa bahagia, jauh lebih penting daripada menjaga segudang harta.
Terkadang, sesuatu yang kecil terasa begitu berarti saat kita telah kehilangan.
Selengkapnya...
KEJUJURAN; KESELARASAN ANTARA HATI, LIDAH DAN PERBUATAN
“Orang yang menangis tak dapat menceritakan gelak orang yang tertawa, orang yang bergirang tak dapat melukiskan tangis orang yang bersedih.”
(HAMKA, dalam novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, 1938)
Kejujuran, itulah yang pertama kali tergambar dalam benak saya ketika membaca petikan yang di ambil dari novel yang berkisah tentang kasih yang tak sampai dari seorang pemuda dan seorang gadis yang terhalang oleh adat istiadat kesukuan yang dijunjung tinggi di kalangan masyarakat Minangkabau. Tapi, tak lah kita bahas isi dari novel itu. Takkan habis membahas sebuah karya indah itu hanya dalam satu tulisan singkat.
Teringatlah satu firman Allah dalam Al Quran yang menyatakan :
“Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. Ash Shaf : 3)
Dalam suatu riwayat, dikisahkan tentang seorang Khalifah yang ditemui oleh seorang budak. Budak tersebut memohon kepada sang Khalifah agar menghimbau kepada para pemilik budak agar memerdekakan budak-budak mereka. Tanpa banyak memberikan komentar, Khalifah tersebut menyanggupi permintaan budak tersebut. Namun, beliau meminta agar diberikan waktu untuk melakukannya. Mendengar itu, budak itu pun merasa sangat girang dan bersyukur sekali.
Maka, setiap hari ia selalu menanti-nantikan himbauan yang telah dijanjikan oleh Khalifah tersebut. Pada Jumat pertama setelah Khalifah itu berjanji, ia tidak mendengar sedikit pun himbauan agar para budak dimerdekakan, menyinggung saja pun tidak ada di dengarnya dalam khutbah yang disampaikan Khalifah itu. Begitu juga yang terjadi pada Jumat berikutnya. Hingga budak itu pun tampak lesu dan mulai hilanglah harapannya untuk memperoleh kemerdekaan.
Akhirnya, pada Jumat yang ketiga, sang Khalifah menyampaikan tentang kemuliaan memerdekakan budak dan menghimbau agar para pemilik budak memberikan kemerdekaan kepada budak mereka. Hal itu disampaikannya dalam khutbahnya yang berapi-api dan sangat menyentuh rakyatnya.
Timbullah keheranan di dalam hati budak yang menyampaikan permintaan tadi, mengapa harus di Jumat yang ketiga itu, barulah khalifah menyampaikan himbauan agar memerdekakan para budak. Padahal, himbauan itu tidaklah terlalu sulit dilakukan oleh seorang Khalifah. Tanpa menunggu waktu lama, setelah selesai melaksanakan shalat Jumat hari itu, ia pun langsung menemui sang Khalifah dan menanyakan apa yang terbersit di dalam hatinya. Khalifah itu pun lalu bercerita bahwa ia juga pada beberapa waktu yang lalu memiliki beberapa orang budak. Sehingga ia membutuhkan waktu untuk memerdekakan budak yang ia miliki, selain itu, ia juga membeki budak dari orang lain dan kemudian memerdekakannya. Itulah sebabnya, maka ia baru dapat menyampaikan himbauan untuk memerdekakan budak setelah tiga kali Jumat setelah permintaan budak itu disampaikan kepadanya. Ia tidak ingin menyampaikan apa yang ia tidak lakukan. Lagi pula, ia akan dapat menyampaikan hikmah memerdekakan budak setelah ia pun merasakannya. Dengan demikian, apa yang ia ucapkan selaras dengan apa yang ia lakukan. Bagaimana himbauannya dapat didengar oleh orang lain, sedangkan ia tidak melakukan apa yang menjadi himbauannya itu. Ia tidak ingin menjadi orang munafiq yang lain di hati, lain di bibir, lain pula di perbuatan.
Hati-hatilah ketika lidah ini tidak lagi kelu ketika mengucapkan kebohongan. Hati-hatilah ketika lidah ini mulai lancar menyampaikan kedustaan. Hati-hatilah ketika hati ini dengan mudahnya mengarang suatu kejadian. Hati-hatilah ketika hatimu tidak lagi terdetak ketika mengucapkan apa yang tidak Engkau lakukan. Hati-hatilah,.... karena murka Allah amatlah besar kepadamu yang tak selaras antara hati, lidah dan perbuatan.
Tidaklah tulisan ini mengatakan bahwa yang menuliskannya telah terbebas dari kemunafikan. Namun, tulisan ini hanyalah mengingatkan dirinya akan pedihnya azab Allah bagi para pendusta. Mudah-mudahan takutnya pada Allah jauh lebih besar daripada niatnya untuk melakukan kedustaan.
Selengkapnya...
JERUK TANPA KULIT
Pernah makan buah jeruk? (hehe,... pertanyaan yang aneh, masak ada orang yang gak pernah makan jeruk,...). Kalau Anda makan jeruk, apakah Anda memakannya sekalian dengan kulit-kulitnya? (lebih aneh lagi nih pertanyaan, masak ada orang makan jeruk sekalian kulit-kulitnya,...). Tentunya, ketika Anda ingin menikmati kesegaran buah jeruk, ketika hendak memakannya Anda harus mengupas dan membuang kulitnya terlebih dahulu. Kenapa? Karena kulit jeruk itu rasanya pahit, sepet, dan pasti tidak enak. Nah, setelah kulitnya Anda kupas, dan Anda memakannya, maka akan dapatlah Anda rasakan manis dan segarnya buah itu. (glekh,.... jadi pengen,.....)
Nah, begitu jugalah hendaknya sikap kita dalam kehidupan ini. Dalam menjalani hidup ini, tentunya kita sering bertemu dengan peristiwa, orang, atau hal-hal lain yang persis sama dengan keadaan buah jeruk.
Dalam suatu peristiwa misalnya, sering kita bertemu dengan hal-hal pahit, menyedihkan, menjengkelkan, dan berbagai hal negatif yang tidak mengenakkan lainnya. So,... Apa yang perlu kita lakukan apabila kita menjumpai peristiwa seperti itu? Maka, bayangkanlah bahwa peristiwa yang tidak mengenakkan itu sebagai kulit jeruk. Memang kulit jeruk itu rasanya sepet, pahit, begitu juga dengan peristiwa itu. Karenanya, mari kita buang jauh-jauh perasaan-perasaan dan emosi negatif yang kita dapatkan dari peristiwa itu, seperti kita membuang kulit jeruk. Dan anggaplah bahwa itu semua adalah hal yang tidak berharga untuk disimpan. Ambil dan nikmatilah hikmah dan sisi positif dari berbagai peristiwa yang telah kita jalani selama ini. Kita akan dapat merasakan segarnya hidup ini pabila kita selalu membuang sisi negatif dan mengambil bagian-bagian positifnya.
Sama halnya ketika kita memandang orang lain. Akan sangat berharga apabila kita membuang jauh-jauh sisi negatif yang kita lihat dari mereka. Selalu melihat keburukan orang lain akan menjadikan hidup kita terasa pahit, tidak membahagiakan. Sedangkan jika kita melihat kebaikan orang lain, maka kita akan lebih dapat menikmati hidup kita ini. Hidup akan terasa jauh lebih membahagiakan. Sama seperti saat kita memakan buah jeruk tanpa kulitnya, pastilah menyegarkan.
Selengkapnya...
SENYUM, KEBAIKAN KECIL YANG MEMBAHAGIAKAN
Betapa besarnya penghargaan Islam terhadap kebaikan yang kita lakukan dalam hidup ini. Bahkan, senyum pun dianggap sebagai sedekah. Senyum yang dilakukan dengan hanya melebarkan sisi bibir kita sudah dianggap sebagai sebuah kebaikan yang bernilai ibadah di sisi Allah SWT. Alangkah bahagianya orang yang selalu tersenyum dalam kesehariannya. Wajahnya akan membuat orang yang melihat merasa nyaman, damai, dan akan menimbulkan kesejukan bagi hati yang sedang gersang. Sadar atau tidak sadar, senyum yang kita bagi kepada saudara-saudara kita akan menularkan – walaupun hanya sedikit – rasa bahagia kepada mereka. Pernahkah kau merasakannya???
Senyum bukan hal yang perlu dipaksakan. Ia datang sebagai respon dari kelapangan hati. Bahkan senyum yang dipaksakan akan nampak terlihat “aneh”, bahkan “tak mengenakkan” dipandang mata. Dalam satu kesempatan, saya membaca sebuah buku – yang entah apa judulnya, maklumlah, yang nulis ini sering lupa – di dalamnya dipaparkan berbagai macam bentuk senyuman, mulai dari senyum yang tulus, senyum menggoda, menawan, senyum terpaksa, senyum mengejek, menyepelekan dan macam-macam bentuk senyum lainnya, sampai belasan jumlahnya. Tapi, setelah saya pikir-pikir, mempelajari berbagai bentuk senyuman itu tak membawa manfaat besar. Entahlah kalau orang lain berpendapat berbeda. Menurut saya, senyum itu bukan untuk dipelajari bagaimana melakukannya, bagaimana bentuknya, tapi ia hanya perlu dilakukan. Titik. Tersenyumlah,.....
Senyum akan selalu membawa emosi positif bagi kita. Dengan tersenyum, emosi kita akan selalu berada pada zona positif, sehingga perasaan kita akan berada pada kondisi yang selalu penuh dengan keikhlasan. Berada dalam zona ikhlas (meminjam istilah yang dipopulerkan oleh Erbe Sentanu dalam buku Quantum Ikhlasnya). Emosi positif, perasaan positif, akan membawa kita pada hidup yang penuh dengan kebahagiaan. Ayo,.... tersenyumlah agar selalu bahagia,......
Senyum bagaikan penyembuh yang dapat menular. (hehe,.... biasanya penyakit yang menular, ini koq malah penyembuh yang menular). Kalau gak percaya, cobalah tersenyum pada temanmu, kakakmu, adikmu, saudaramu, atau siapa saja, bahkan kepada orang yang tidak kau kenal sekalipun, lihatlah apa yang terjadi. Dapat dipastikan, senyummu akan segera menular pada mereka.
Tersenyumlah. Ia dapat menghilangkan sakit pada hati, ia dapat meneguhkan silaturahim, ia dapat mencairkan suasana yang beku, ia dapat memberikan semangat, ia dapat menjadikan wajah kita berseri-seri, ia dapat membuat hidup jauh lebih berwarna,..... Banyak hal yang bisa kita dapatkan dengan senyuman. Jadi, tersenyumlah teman,..... Rasakan apa yang engkau dapatkan dengan senyummu.
Senyumlah dengan menyertakan hati. Kata Aa Gym, hati hanya bisa disentuh dengan hati. So, tersenyum pun harus dengan hati. Jadi, gimana caranya tersenyum dengan hati??? Gimana melihat orang yang tersenyum itu dengan hati atau tidak??? Nah, inilah bagian yang susah untuk dijelaskan dengan rangkaian kata. Benar memang kata pepatah, dalamnya laut dapat diduga, dalamnya hati siapa yang tau. Tapi, yang pasti, jika kita memberikan senyuman dengan tulus ikhlas, maka ketulusan dan keikhlasan kita akan dirasakan oleh orang lain. Begitu juga sebaliknya. Karena hati hanya bisa disentuh dengan hati. So,.... Tersenyumlah dengan hati,......
Satu lagi. Buat kamu yang ingin terlihat manis dan tampan atau cantik. Maka tersenyumlah. Bahkan orang yang bertampang seram, penuh codet di wajahnya, layaknya preman pajak horas Siantar, kalau ia tersenyum maka wajahnya akan nampak innocent. Wajah tak berdosa. Apalagi yang wajahnya memang “bening”. Sungguh karunia Allah itu harus dimaksimalkan dengan senyum. So,... dont forget to give your smile to every one, any time any where.
Selengkapnya...