SaYAp KaNaN Headline Animator

Join with me in PeopleString

Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.

paydotcom.com

Kamis, 22 Oktober 2009

BELAJAR HIDUP DARI HURUF ALIF, LAM, MIM, DAN SHAD

Gambaran hidup yang dijalani oleh manusia di muka bumi Allah SWT ini bisa diibaratkan seperti huruf Alif, Lam, Mim dan Shad. Huruf Alif memiliki bentuk yang lurus, tegak mulai dari titik awal penarikan garis hingga sampai di titik akhir garis huruf tersebut. Huruf Lam, dimulai dengan menarik satu garis lurus dari titik awal, kemudian ditarik garis yang membengkok hingga ujung titik akhir huruf tersebut. Sedangkan huruf Mim, dimulai dari satu titik awal, langsung ditarik garis yang membengkok dan hampir memutar, kemudian pada satu titik ditarik garis lurus hingga titik akhir huruf tersebut. Terakhir, huruf Shad. Huruf ini dimulai dari satu titik, langsung ditarik garis membengkok dan memutar hingga hampir seperti bentuk elips, kemudian ditarik lagi garis hingga membentuk seperti setengah lingkaran ke arah bawah.

Pertama, belajar dari huruf alif. Seperti huruf alif yang tegak lurus mulai dari titik awal hingga akhir, maka hidup manusia itu ada yang sejak ia lahir dan beranjak dewasa mempunyai sejarah hidup yang baik, tanpa pernah menyeleweng dari koridor yang telah digariskan Allah SWT. Inilah hidup yang diajarkan oleh Rasulullah saw. Rasulullah saw. merupakan panutan yang paling pantas untuk kita jadikan sebagai contoh menjalani hidup seperti huruf alif ini. Rasulullah saw. mulai dari lahir hingga dewasa dan menjalankan tugas kenabian, hingga akhir hayatnya tidak pernah melenceng dari aturan yang telah digariskan oleh Allah SWT di dalam ajaran-Nya. Di kalangan sahabat, kita mengenal seorang sahabat sekaligus menantu Rasulullah saw. yang dijuluki oleh Rasulullah saw. sebagai babul ilmu (pintu ilmu), ialah Ali bin Abi Thalib ra. Beliau adalah anak paman Rasulullah saw yang merupakan salah seorang yang pertama kali memeluk Islam dari kalangan pemuda. Hingga akhir hayatnya Ali bin Abi Thalib merupakan seorang yang istiqamah dalam menjalankan ajaran Allah SWT. Di kalangan para sahabat, tabi’in, tabi’it tabi’in, ulama, dan banyak lagi tokoh-tokoh Islam yang menjalani hidupnya seperti huruf alif, tegak lurus mulai dari titik awal hingga akhir. Merekalah orang-orang yang selaluu istiqamah di jalan Allah SWT. Mudah-mudahan kita termasuk orang-orang yang berada dalam golongan orang-orang yang seperti mereka. Amin ya Rabbal ‘alamin.

Kedua, belajar dari huruf lam. Mereka yang hidupnya seperti huruf lam ini adalah orang-orang yang taat pada awal kehidupan mereka. Hingga pada suatu titik, mereka keluar dari jalur istiqamah dan meninggalkan ketaatan kapada Allah SWT dan Rasul-Nya. mereka memiliki awal hidup yang baik, namun akhir hayatnya ditutup dengan su’ul khatimah (meninggal dalam keadaan buruk). Di masa Rasulullah saw. kita mengenal seorang sahabat Nabi yang bernama Sa’labah. Ia adalah seorang yang taat dan selalu mengikuti ajaran Rasulullah saw pada awal hidupnya. Suatu hari, Rasul bertanya kepadanya mengapa ia selalu langsung meninggalkan masjid setelah melaksanakan shalat berjamaah. Maka ia mengatakan bahwa ia hanya punya satu kain yang harus segera dipakai istrinya di rumah untuk melaksanakan shalat. Karena hanya itulah satu-satunya kain yang dimilikinya dan istrinya, sehingga mereka harus memakainya secara bergantian. Maka, ia meminta kepada Rasulullah agar Rasul mendoakannya, sehingga ia tidak lagi miskin. Setelah didesak, akhirnya Rasulullah pun mendoakannya, dan doa itu dikabulkan oleh Allah SWT. Singkat cerita, setelah ia menjadi orang kaya, maka ia menganggap bahwa itu adalah hasil jerih payahnya. Dan ia pun mulai mengabaikan perintah-perintah Allah SWT dan Rasul-Nya. hingga akhirnya ia menjadi orang yang durhaka kepada Allah SWT dan Rasul-Nya hingga ia meninggal dunia. Semoga kita dapat mengambil pelajaran dari kisah Sa’labah ini dan tidak meninggalkan sikap istiqamah kita dengan alasan apa pun.

Ketiga, belajar dari huruf mim. Sebagaimana bentuk huruf mim, awal kehidupan mereka dimulai dengan kedurhakaan kepada Allah SWT, mereka selalu berbuat maksiat dan melanggar perintah Allah SWT dan Rasul-Nya. Namun, pada satu waktu hidayah dari Allah SWT meresap ke dalam qalbu mereka, hingga mereka merubah jalan hidupnya yang penuh kemaksiatan menjadi hidup yang penuh dengan ibadah dan ketaatan kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Dan mereka mempertahankan sikap istiqamah mereka hinggga akhir hayatnya. Sungguh beruntung orang yang menyadari kesalahannya dan mau bertaubat kepada Allah SWT dan membersihkan dirinya dari kemaksiatan. Allah SWT tak pernah menutup pintu taubat bagi hamba-hamba-Nya yang mau merubah jalan hidupnya menuju Shirathal Mustaqim. Di masa Rasulullah, banyak orang yang hidupnya dicurahkan untuk menentang ajaran yang dibawa oleh Rasulullah saw. dan bahkan berusaha untuk membunuhnya. Namun, mereka mendapat hidayah dari Allah SWT, hingga berbalik seratus delapan puluh derajat, menjadi pembela-pembela utama Rasulullah saw dalam menjalankan dakwahnya. Seorang di antara mereka adalah yang kita kenal sebagai Singa Padang Pasir, ialah Umar Bin Khattab ra. Ia dikenal sebagai orang yang sangat berpengaruh di dalam bangsa Arab kala itu dan penentang utama Rasulullah saw. Namun, ternyata hidayah Allah SWT datang melalui adiknya, hingga akhirnya ia mempersaksikan diri bahwa Tuhannya adalah Allah SWT dan Muhammad saw sebagai Rasulullah. Ia akhirnya menjadi salah seorang yang berada di garis terdepan dalam mendukung dakwah Rasulullah saw dalam menyebarkan ajaran Islam. Dan ia pun kita kenal sbagai salah seorang Khalifah yang menggantikan kepemimpinan Rasulullah pasca wafatnya beliau. Semoga kita yang selalu berbuat dosa kepada Allah SWT ini selalu mendapatkan setitik cahaya hidayah yang akan menuntun kita agar tetap istiqamah di jalan-Nya.

Keempat, belajar dari huruf shad. Mudah-mudahan kita dilindungi Allah SWT hingga tidak seperti mereka yang hidupnya seperti bentuk huruf shad. Karena mereka adalah orang-orang yang sepanjang hidupnya selalu melakukan aktifitas yang bertentangan dengan ajaran Allah SWT dan petuah-petuah Rasulullah saw. Merekalah orang-orang kufur yang hidupnya selalu celaka baik di dunia maupun di akhirat kelak. Banyak contoh manusia yang tipekal hidupnya seperti huruf shad ini, di antaranya adalah Fir,aun pada masa nabi Musa as, Abu Jahal, Abu Lahab dan pengikut mereka pada masa Rasulullah Muhammad saw. dan mungkin banyak juga dalam kehidupan kita umat akhir zaman ini. Na’udzubillahi min dzalik.

Maka, marilah kita belajar dari beberapa gambaran hidup di atas dengan selalu mengharap hidayah dan ridha dari Allah SWT agar selalu berada di jalan yang benar.

Artinya: “Tunjukilah Kami jalan yang lurus. (Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (QS 1:6-7)

Tidak ada hidup yang lebih indah daripada hidup yang selalu membawa kasih sayang dan kedamaian di manapun kita berada. Karena kita adalah bagian dari umat terbaik yang akan menjadi rahmat bagi seluruh alam semesta ini. Menebarkan pesan damai, cinta, kasih sayang, kemulian, kebahagian dan kehidupan yang penuh dengan karunia dari Allah SWT kepada makhluk di segala penjuru dunia. Memahami, mengamalkan dan mengajarkan kalimat-kalimat suci yang menjadi oase di tengah gurun pasir yang gersang. Membawa angin kesejukan di tengah keringnya hati yang telah membatu. Itulah kehidupan yang diajarkan oleh Allah SWT melalui Rasul-Nya.

Artinya: “Dan Tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. (QS. 21:107)

Ada sebuah kisah hikmah yang mungkin sering kita baca atau kita dengar dalam kehidupan kita sehari-hari. Namun, tidak ada salahnya apabila kita kembali membacanya sebagai sebuah muhasabah bagi kita dalm menjalani hidup ini.

Di suatu negeri, hidup dua orang bersaudara. Mereka berdua merupakan kakak beradik yang masih berusia muda. Kakak beradik itu mempunya karakter yang bertolak belakang antara satu dengan yang lain. Lingkungan pergaulan mereka juga sangat berbeda. Sang kakak dipandang di masyarakatnya sebagai seorang yang halus budi pekertinya, sabar, taat kepada orang tua, rajin beribadah, suka membantu sesamanya, dan selalu tampak berbuat kebaikan. Sehingga orang-orang yang melihatnya merasa salut dan bangga kepadanya. Sedangkan adiknya, memiliki karakter yang seratus delapan puluh derajat berbeda dengannya. Ia suka berbuat buruk, mengambil hak orang lain, berzina, berjudi dan melakukan perbuatan-perbuatan maksiat lainnya. Itulah yang dilihat oleh masyarakat selama bertahun-tahun lamanya. Hingga pada suatu malam, timbullah keinginan dari sang kakak untuk mencoba memasuki dunia yang dijalani oleh adiknya. “Apa salahnya aku melakukan perbuatan seperti adikku. Toh hanya malam ini saja.” pikirnya. Kemudian, dengan hati yang sudah mantap, ia pun berangkat ke tempat yang biasa didatangi oleh adiknya. Disana ia bersenang-senang sepuas hatinya, mabuk hingga tak sadarkan diri, bercengkerama dengan perempuan-perempuan dan perbuatan maksiat lainnya yang selama ini tidak pernah sekalipun dilakukannya.

Pada malam yang sama, sang adik berpikir bahwa ia telah banyak melakukan kesalahan dan dosa kepada Allah SWT. Maka terbersitlah di dalam pikirannya untuk menebus dosa-dosanya itu dengan bertaubat dan melakukan ibadah kepada Allah SWT. Maka, dengan hati yang telah mantap, ia pun berangkat ke masjid yang biasa dikunjungi oleh kakaknya. Disana ia beribadah kepada Allah SWT, memohon ampun, menangisi dan menyesali perbuatan-perbuatannya selama ini. Malam itu, ia larut dalam ibadah kepada Allah SWT.

Tanpa disangka-sangka, pada malam itu terjadi gempa bumi yang sangat dahsyat. Hingga seluruh kota tempat tinggal mereka hancur porak poranda, termasuk tempat dimana sang kakak dan adiknya menghabiskan waktu pada malam itu. Setelah gempa bumi itu selesai, maka orang-orang yang selamat mulai membersihkan puing-puing bangunan yang roboh dilanda gempa. Ketika mereka membersihkan puing-puing reruntuhan masjid, maka nampaklah sang adik yang selalu berbuat maksiat itu telah meninggal dunia dalam keadaan sujud dalam shalat. Di tempat lain, yaitu tempat maksiat dimana sang kakak menghabiskan waktunya malam itu ditemukan juga jenazah yang berada dalam kondisi yang sangat memalukan. Itulah jenazah sang kakak. Maka, di negeri itu segeralah tersebar kabar yang sangat mengherankan banyak orang. Kakak yang selama ini nampak sangat taat beribadah, ternyata meninggal dalam keadaan su’ul khatimah, sedanngkan adiknya yang selama ini selalu berbuat maksiat meninggal dalam kondisi husnul khatimah. Wallahu a’lam bish shawab.

Wahai manusia, tidak ada di antara kita yang tau kapan Allah akan mengambil ruh dari raga kita ini. Karena itu, kita harus selalu mempersiapkan diri kita untuk menghadapi kematian. Tak seorang pun yang bisa menunda ajal manusia. Orang yang masih muda belum tentu lebih lama meninggalkan dunia ini dari pada orang yang telah tua renta. Orang yang hari ini sehat, bisa saja lebih dahulu meninggal daripada orang yang telah sakit selama bertahun-tahun.

Artinya: “Katakanlah: "Aku tidak berkuasa mendatangkan kemudharatan dan tidak (pula) kemanfaatan kepada diriku, melainkan apa yang dikehendaki Allah". Tiap-tiap umat mempunyai ajal. Apabila telah datang ajal mereka, Maka mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak (pula) mendahulukan(nya). (QS. 10:49)

Oleh karena itu, tetaplah istiqamah dengan iman dan amal shalih kita. Jangan pernah berpikir untuk berbuat maksiat saat ini dan bertaubat di masa yang akan datang. Karena hanya Allah SWT lah yang tau kapan tibanya ajal kita. Dan kita pun tidak dapat memajukan ataupun memundurkannya.

Senantiasalah kita berdoa kepada Allah SWT sebagaimana doa yang diajarkan-Nya di dalam kitab sucinya, Al Quran Al Karim.

Artinya: “(mereka berdoa): "Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau jadikan hati Kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada Kami, dan karuniakanlah kepada Kami rahmat dari sisi Engkau; karena Sesungguhnya Engkau-lah Maha pemberi (karunia)". (QS. 3:8)

Tidak ada komentar: